Sabtu, 10 Juli 2010

Manajemen Pengelolaan Perkawinan Induk

Usaha produksi kambing merupakan komponen penting dalam pola usaha tani campuran (mix farming) yang masih banyak diadopsi oleh petani-ternak di Indonesia. Produksi kambing juga dapat diusahakan sebagai usaha monokultur berskala ekonomi dengan orientasi usaha kearah komersial. Bagaimanapun tipologi usaha produksi kambing yang akan dilakukan, peran induk sebagai unit produksi sangat strategis, terlebih dalam memanfaatkan sifat prolifik (kesuburan) yang memungkinkan induk melahirkan anak kembar 2-4. Potensi kelahiran anak kembar ini merupakan keunggulan penting dalam budidaya kambing, terutama dalam usaha perbibitan. Oleh karena itu, manajemen pengelolaan induk beserta anak yang dilahirkan sampai mencapai usia sapih menjadi sangat penting. Target dalam pengelolaan induk dan anak dapat dirumuskan menjadi :1) meningkatkan jumlah anak per kelahiran, 2) memaksimalkan pertumbuhan anak selama masa pra-sapih, 3) memaksimalkan skor kondisi tubuh induk ( skor 3) selama menyususi, 4) memperpendek selang antara partus/melahirkan dengan timbulnya birahi (1-2 bulan). Dengan target seekor induk akan birahi 1-2 bulan setelah melahirkan maka, induk dipredikasi dapat melahirkan paling tidak 3 kali dalam dua tahun dan tidak tertutuk kemungkinan melahirkan dua kali dalam satu tahun. Dengan target manajemen tersebut dapat diharapkan meningkatnya efisiensi usaha produksi kambing secara nyata yang berdampak kepada meningkatkan keuntungan finansial. Kondisi ini berpotensi untuk memacu perkembangan ternak kambing lebih cepat di wilayah sentra produksi ataupun mendorong berkembangnya sentra produksi baru diwaktu mendatang.
Sumber :
SIMON P GINTING
LOLIT KAMBING POTONG
SEI PUTIH - SUMUT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar