Sabtu, 10 Juli 2010

Manajemen Kesehatan Anak Pra Sapih

Studi Kasus
Angka kematian anak pra-sapih merupakan salah satu sumber kerugian yang penting dalam usaha produksi kambing. Tidak jarang angka kematian mencapai 30-40% apabila usaha produksi tidak dikelola dengan baik. Kematian umumnya disebabkan terutama oleh penyakit yang muncul akibat manajemen yang buruk. Angka kematian anak sekitar 5-10 % dapat dianggap sangat baik untuk suatu usaha produksi yang baik.
Pada Tabel 1 dipaparkan suatu kasus sebaran penyakit yang meyebebkan kematian pada anak kambing umur 0-3 bulan disuatu peternakan. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa terdapat dua jenis penyakit yang paling banyak menyebebkan kematian anak kambing pra-sapih yaitu pneumonia dan koksidiosis, yaitu keduanya menyebabkan kematian 64,7% dari total kematian. Jika Enteritis dianggap sebagai indikasi Koksidiosis dan Cachexia merupakan konskuensi logis sebelum kematian maka total kontribusi kematian dari penyakit tersebut adalah 79,3%.

Tabel 1. Beberapa penyakit penyebab kematian anak kambing umur 0- 3 bulan Penyebab kematian Jumlah anak mati (ekor) Tingkat kematian (%)
Pneumonia 54 32,6
Koksidiosis 53 32,1
Enteritis/Mencret 9 5,5
Cachexia 15 9,1
Infeksi puerperal* 15 9,1
Kematian saat lahir/Neonatal mortality** 10 6,1
Lain-lain*** 9 5,5
Total 165 100
*Termasuk: Septicaema (8), E. coli (3), myocarditis (1), pericarditis (1), arthritis (1), pyogenik bakteri embolisma (1)
**Termasuk: mati lahir (4), lahir lemah (5), hypothermia (1)
***Termasuk: Cerebrotical necrosis (1), defisiensi vitamin E/Selenium (1), ataxia (1), renal dysplasia (1)
Sumber: Donkin dan Boyazoglu (2004).
Pneumonia
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai bacteria maupun virus, bahkan parasit (parasit paru) serta akibat reaksi alergik. Penyakit ini sangat mudah terjadi pada anak kambing pra-sapih yang tidak mendapat cukup kolostrum saat dilahirkan atau dipelihara dalam kandang dengan kepadatan tinggi. Penyakit ini mudah timbul pada anak kambing pada umur sangat muda (<35 hari) ataupun pada umur 2-3 bulan. Istilah umum pneumonia digunakan untuk menjelaskan gangguan paru baik akibat infeksi bakteri maupun virus dan parasit juga akibat sebab lain yang mengakibatkan pembengkakan paru (inflamasi). Pneumonia dapat bersifat akut (menyebabkan sakit dan kematian dalam beberapa jam) maupun kronik. Penyakit ini sering dipicu oleh cekaman, misalnya akibat ventilasi yang kurang baik sehingga humiditas (kelembaban) didalam kandang tinggi.
Gejala terserang pneumonia adalah nafsu makan hilang, batuk berulang, demam, sulit bernafas, keluar cairan dari lubang hidung. Pada kasus yang berat ternak bernafas melalui mulut yang membuka. Jika sampai mengalami sakit di paru, ternak menunjukan tanda dengan selalu berdiam (tidak aktif bergerak).
Pengobatan dapat dilakukan dengan suntikan antibiotik atau preparat sulfa intravena atau intra muscular (otot) sesuai petunjuk produser obat. Pencegahan dilakukan dengan mengurangi kepadatan kandang, mengurangi kelembaban kandang, membuat kandang tetap kering dan bersih. Lakukan perbaikan ventilasi kandang, tingkatkan kebersihan dan kurangi kepadatan kandang serta pastikan tersedia dan terjangkau pakan yang segar dan air minum yang bersih didalam kandang.
Koksidiosis
Penyakit koksidiosis disebabkan oleh parasit koksidia didalam saluran cerna (usus). Kondisi stress akibat kepadatan kandang yang terlalu tinggi, kelembaban tinggi dan kandang kotor memacu timbulnya koksidiosis. Koksidiosis juga mendiring timbulnya penyakit lain seperti pneumonia. Kombinasi koksidiosis dengan pneumonia sering berdampak fatal. yang menyebabkan diarea disertai bercak darah.
Gejala koksidiosis ditandai dengan turunnya nafsu makan, kotoran cair (mencret) dan berwarna kehitaman dengan disertai bercak darah, berlendir, bobot badan turun dan bulu serta kulit terlihat kasar dan kering. Anak kambing pra-sapih umur 3-4 minggu sangat peka terhadap gangguan koksidia. Jika koksidiosis terjadi mewabah disuatu kandang atau peternakan kambing perlakuan terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan sanitasi kandang dan isolasi ternak yang terserang koksi. Kambing yang selamat dari wabah koksi biasanya telah memiliki kekebalaqn.
Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika. Obat sulfa sangat efektif untuk mengendalikan koksi. Obat sulfa dapat diberikan selama 4 hari berturut-turut atau sesuai dengan petunjuk. Produser obat. Namun, pengobatan biasanya kurang efektif apabila tidak disertai dengan sanitasi yang baik, pengurangan kepadatan kandang dan memisahkan anak kambing dari kambing yang lebih dewasa.
Diarea/Mencret
Diarea atau mencret merupakan indikasi adanya gangguan pada saluran cerna akibat bebagai penyebab baik penyakit seperi koksidiosis maupun gangguan metabolism pakan atau kombinasi keduanya. Tanda diarea adalah feses atau kotoran yang encer dan berwarna hijau muda atau hijau tua, atau hijau kemerahan atau kuning kehijauan serta ternak terlihat lemah. Penanganan diarea adalah sbb:
• Isolasi ternak yang terserang mencret dan cek kondisi dan warna serta keenceran feses, frekuensi buang kotoran. Dengan mengetahui perubahan kondisi feses/kotoran, maka ternak lain didalam kandang yang mungkin mengalami hal yang sama dapat diidentifikasi
• Jika diarea sangat parah dan kondisi ternak memburuk langsung diberi antibiotic.
• Sangat penting bagi ternak untuk mendapatkan cairan. Oleh karena itu, paksa ternak mengkonsumsi larutan garam dan gula yang dibuat dengan mencampur 1 sendok the (10 g) garam dan 1 sendok the (10 g) gula dalam 2,5 liter air dingin yang telah dimasak. Oralit dapat ditambahkan kedalam larutan, lalu berikan larutan tersebut sebanyak 1/6 dari bobot tubuhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar